Untitled Document

Profil

Di Indonesia, panjat tebing mengingatkan orang pada SKYGERS, tentu saja hal ini tidak berarti bahwa hanya para SKYGERS yang melakukan olahraga ini. Beberapa kelompok pendaki gunung, seperti MAPALA UI Jakarta atau WANADRI Bandung yang termasuk kelompok-kelompok perintis, juga melakukan panjat tebing, tetapi hanya sebagai bagian dari kegiatan mereka. SKYGERS adalah kelompok pertama yang mengambil bidang panjat tebing sebagai spesialisasi. Dan walaupun mereka pendaki gunung, mereka juga lebih ingin disebut “pemanjat tebing”.

SKYGERS mengingatkan orang pada Harry Sulliztiarto. Pada tahun 1976 Harry datang dari Surabaya ke Bandung untuk belajar di ITB. Waktu itu sudah menjadi pecinta alam dan melakukan olahraga jalan dan mendaki gunung secara otodidak, tanpa teknik. Di ITB, seorang kawan asal Inggris memberikannya sebuah buku petunjuk mengenai panjat tebing: “From hill walking to alpine climbing”. Bisa dibilang buku itulah yang menjadikan Harry seorang spesialis panjat tebing.

Rekan-rekan di Fakultas Seni Rupa ITB bergabung dan mendirikan kelompok SKYGERS. Bemula dari latihan-latihan dengan peralatan sederhana, sedikit demi sedikit SKYGERS mengumpulkan peralatan dari luar negeri sambil berusaha membuat peralatan sendiri sampai akhirnya di tahun 1980 SKYGERS menjadi kelompok panjat tebing yang mungkin mempunyai peralatan terlengkap di Indonesia.

Pada tahun 1979, Harry dan Agus memanjat Planetarium TIM Jakarta. Tahun 1980 dilaksanakan ekspedisi panjat tebing yang pertama di Indonesia dilaksanakan di Gunung Parang berkat adanya dukungan dari JAYAGIRI.

Pemanjatan pertama berikut persiapan jalan yang akan dilalui itu membutuhkan waktu tak kurang dari 26 hari. Pemanjatan berikutnya hanya berlangsung selama....empat jam.

Perlu digarisbawahi, bahwa panjat tebing di Indonesia berutang budi pada Doddy Kasoem, wakil perusahaan JAYAGIRI yang menjual peralatan olahraga ‘outdoor’ dan ‘indoor’ di banyak kota di Indonesia.

Pada tahun 1981, sebuah grup yang terdiri 21 mahasiswa ITB (diantaranya, yang tergabung di SKYGERS) melakukan pendakian Gunung Jaya Wijaya di Irian Jaya. Dan pada tahun yang sama, tiga orang personil SKYGERS mendirikan Sekolah Memanjat Tebing SKYGERS. 90% pendidikan di SKYGERS dalam bentuk praktek, dan dititikberatkan pada Climbing Procedure dan Safety Procedure dengan ratio satu instruktur untuk maksimum empat orang siswa. Pendidikan diselenggarakan satu tahun sekali, dan direncanakan setahun minimal dua kali untuk massa mendatang. Sampai saat ini SKYGERS telah menetaskan 16 angkatan, dan mengadakan kursus-kursus kilat di beberapa kota di Jawa dan Sumatra, kursus privat dan pendidikan memanjat tebing khusus bagi militer pada beberapa kasatuan ABRI.

SKYGERS bukanlah suatu perkumpulan yang biasa. Lebih dari segalanya, mereka adalah sekelompok kawanan yang sama-sama menggandrungi panjat tebing dan bahaya, cinta alam dan haus akan kebebasan. Dan barangkali karena cinta akan kebebasan inilah, dalam kelompok SKYGERS tak kenal adanya kartu anggota, iuran atau ikatan apapun.

Majalah RONA, vol II, No. 3 Tahun 1990