Gagal Connect Mysql CUYYYYY

Profil

Secara umum sejak awal (tahun 1976) para pendiri SKYGERS telah melakukan panjat tebing dengan memadukan teknik free climbing (menggunakan pengaman hanya untuk menahan jatuh) & aid climbing (menggunakan pengaman untuk menambah ketinggian sekaligus menahan jatuh).

Namun titik awal perkembangan panjat tebing olah raga di Indonesia baru dimulai pada tahun 1988, setelah Menpora dan Kedubes Perancis mengenalkan dinding panjat buatan melalui program kursus pemanjatan yang disampaikan oleh Patrick Berhauld, Cathrinne La Brunne & Jean Baptiste Triboute.

Selain dibentuknya Federasi Panjat Gunung & Tebing Indonesia (FPGTI), momentum tersebut sekaligus menjadi garis tegas pemisahan keterampilan (free climbing yang berkembang menjadi olah raga) & manajemen resiko (aid climbing class VI yang berkembang menjadi petualangan) panjat tebing.

Berbekal mata bor sisa Ekspedisi Eiger, beberapa alumnus SKYGERS yang aktif mulai membuat jalur-jalur free climbing untuk olah raga/berlatih di tebing-tebing kawasan Karst Citatah & Gunung Parang.

Walaupun Tim Perancis memperkenalkan teknik Rap Bolting (membuat jalur free climbing di tebing alam dengan cara turun tebing), namun para alumnus SKYGERS lebih senang membuat jalur dengan menggunakan perpaduan teknik free & aid climbing.

Hal tersebut dilandasi oleh minimnya peralatan, kebiasaan memanjat serta kecenderungan untuk adu keterampilan (membuat jalur sesulit mungkin namun tetap dapat dipanjat), sehingga banyak sekali jalur-jalur free climbing yang dihasilkan memiliki variasi jarak bolt tidak menentu, kadang dekat (sesuai dengan patokan titik aman) hingga terlalu jauh (karena tingkat kesulitan jalur dianggap terlalu mudah bagi pembuatnya).